Makna kata Cukup

03 Okt 2015, 14:27 WIB | gadmin

 

Menurut jeng, apa sih makna kata "cukup"?

Apakah cukup uang saat mau belanja pas lagi SALE atau ngga lagi SALE?

atau

Cukup budget dan waktu luang saat mau liburan?

Namun dari semua makna kata cukup tersebut, ternyata justru kita sering merasa tidak pernah cukup. Akan muncul kata "seandainya" setelah kata "cukup".

Ini sih based on pengalaman pribadi gue. Gak tau deh kalo ibu-ibu yang lain, Sambil rumpi-rumpi dikit tentang isi kantong, boleh aja ikut gabung share pengalamannya disini.

Dulu tahun 2007 gue kerja disebuah percetakan yang cukup beken namanya, namun irit dalam hal gaji karyawan. Saat itu gue sambil kuliah D3 pula. Sebut kata, gaji gue saat itu UMR pas.

Dengan gaji segitu, gue harus nyisihin gaji untuk bayar kuliah, ongkos kerja dan kuliah dan untuk makan sehari-hari dan kalau bisa nabung juga. Tentu dengan pengeluaran yang serba di pres sana-sini. Yang artinya ngga bisa liburan kapan lo mau, ngga ada acara nongkrong-nongkrong sama temen-temen, boro-boro budgetnya ada, waktu ajah hampir ngga ada. Kalaupun ada waktu, biasanya gue pake untuk belajar or nemenin nenek bikin kue untuk pengajian or istirahat dirumah sambil bersenda gurau sama sepupu-sepupu gue dan nenek tercintah. (saat itu gue tinggal sama nenek).

Dengan waktu kerja dengan system shifting yang hari minggu juga masuk kerja, ditambah kuliah malem, kadang gue ngga bisa masuk kuliah karena bentrok dengan jadwal kerja. Dilema pun terjadi. Kalau ngga kerja, gue ngga bisa bayar kuliah. Kalau ngga kuliah, hidup gue akan gini-gini ajah. Apalagi yang ngenesnya saat menolak ajakan temen-temen untuk nongkrong pulang kuliah atau diluar jam kuliah. Mungkin terasa belagu banget saat gue cuma bisa bilang, "gue gak bisa".  Tapi apa gue kehilangan temen-temen gue? Jawabannya adalah tidak.

Setelah gue renungkan dengan kondisi gue saat ini, pada waktu itu gue bisa bayar kuliah tepat waktu, gue juga bisa beli baju or sepatu untuk kebutuhan kerja, gue bisa jajanin adek gue or sepupu-sepupu gue dan gue juga bisa nabung. Dalam waktu 2 tahun kerja, gue bisa punya tabungan emas 12 gram. Semua terasa sulit saat itu namun semua kebutuhan gue saat itu terasa "CUKUP".

Hanya waktu saja yang terasa begitu kurang saat itu, karena gue sampe ngga bisa dateng ke acara nikahan abang gue karena acaranya diluar kota dan saat itu bertepatan dengan jadwal UAS gue. Tapi permasalahan saat itu adalah soal prioritas. Gue memprioritaskan pendidikan gue saat itu.

Lalu gue bandingkan dengan kondisi saat ini, tahun 2015.

Bekerja di instansi pendidikan yang lumayan bonafit, digaji layak, punya rumah tanpa pake nyicil walau lokasinya cukup jauh. Bisa nongkrong sama temen-temen di mall karena kebetulah tempat kerja gue sebelahan sama mall, jadi pas istirahat bisa maen kesana sambil makan siang. Kuliah juga udah kelar sampe S1. Gue juga bisa liburan keluar kota kalau lagi ambil cuti.

Namun gue jadi banyak mengeluh, gue jadi cepet stres yang membuat keinginan untuk menghabiskan uang untuk liburan dan makan enak begitu besar sampai gue sadari perbedaan antara dulu dan sekarang adalah pas gue liat tabungan gue setelah kerja 2 tahun disana tahun 2013, gue ngga punya tabungan sama sekali.

Ternyata kata "cukup" bukan saat dimana penghasilan gue meningkat. Bukan pula saat dimana gue punya banyak waktu untuk nongkrong dan liburan.

Kesimpulannya, bagi gue kata "Cukup" ternyata bermakna "Sebuah perasaan bahagia saat gue mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh Allah SWT meski dalam segala keterbatasan".

 

Created by:

Mega Maharani

 

Reporter : Mega M
Sumber : Mega M