Edisi Curcol Part 1-Belajar dari Capung

15 Nov 2015, 23:49 WIB | mega

Dragonfly | Sumber Foto:Photo by Sensei Minimal on Unsplash

 

Hari ini tepat hari ke 15 gue jadi pengangguran. Pengangguran full time yang mencoba mencari kesibukan. Ada sebagian orang  yang menyayangkan keputusan gw untuk resign disaat begitu banyak orang yang menginginkan posisi gue saat itu. Lalu sebagian lainnya bersikap netral dengan membesarkan hati gue bahwa hidup itu pilihan dan punya skala prioritasnya masing-masing.

Hidup memiliki fasenya masing-masing untuk setiap mahluk yang ada di dalam prosesnya. Contohnya Capung. Sebagian besar hidupnya adalah dalam bentuk nimfa, hampir 4 tahun lamanya sampai dia menjadi dewasa dan dia membutuhkan 12 kali berganti kulit dalam proses tersebut. Lalu setelah menjadi dewasa, dia hanya hidup 2 sampai 4 bulan hanya untuk menjalani proses reproduksi. Sebagian besar waktu dihabiskan dalam proses menuju dewasa.

Siklus Hidup Capung.

 

 

Lalu kesimpulan yang gue dapatkan dari siklus hidup capung adalah "Hidup adalah proses". Proses tidak sempurna yang terus menerus dijalani. Ada kalanya kita harus berhenti disatu titik, lalu melepaskan cangkang yang melekat pada tubuh untuk menjadi pribadi yang baru. Berkali-kali harus merasakan rasa sakit, kesenangan, perjuangan, pencapaian, kecewa, kegembiraan, kepedihan, dan kehilangan. Semua itu harus dialami dalam sebuah proses bernama "Hidup".

Lalu pertanyaan yang ada dikepala gue adalah mengapa kita perlu hidup dan menjalani semua proses melelahkan itu, hanya untuk menjalani hidup singkat setelah dewasa. Jika pada capung, dia disebut dewasa setelah fase nimpa selesai, lalu bagaimana dengan manusia. Pada tahap apa seseorang telah dikatakan dewasa? Dan kenapa gue sebegitu sibuknya memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut? Untuk yang terakhir ini gue punya jawabannya. Yaitu, karena gue udah jadi pengangguran full time. Hahaha...

Saat ini gue hanya sedang menganalisa dan mempelajari keputusan yang gue ambil 1 bulan yang lalu. Gue ini tipe yang cenderung bertindak terlebih dahulu, baru mikir setelahnya. Tidak menyesali, namun mencari makna dan pelajaran dari hal tersebut.  Kalo istilah kerennya, "Do first, think later". Tipe orang sembrono kalau kata om Rangga.

Bagi gue yang sembrono ini, proses hidup terbagi menjadi 4 tahap:

1     Yakini,

2.    Jalani,

3.    Pelajari, lalu

4.    Ambil hikmahnya.

Bagi yang kaga ngerti kenapa proses tersebut terbagi menjadi 4, gue coba sederhanakan pemikiran gue yang ribet ini.

Pertama, "Yakini". Dalam memutuskan langkah apa yang akan gue ambil, biasanya hal pertama yang harus gue miliki adalah rasa yakin bahwa keputusan itu dari hati dan pikiran gue yang sudah kompromi serta adu argumen tentang baik dan buruknya keputusan itu serta telah melewati edisi curhat dengan Allah SWT.

Kedua, "Jalani". Setelah yakin, tidak perlu lama-lama dan menunda-nunda eksekusi. Lakukan saja  lalu hadapi segala macam kejadian setelahnya. Kadang, hal yang semula gue anggap mengerikan, pada kenyataanya tidak seburuk yang gue fikirkan atau sebaliknya. Ternyata kenyataan lebih pahit dari yang gue bayangkan. Hahaha...

Yang ketiga, "Pelajari". Ini adalah proses analisa dalam menjalani akibat dari keputusan itu, ditemukan kendala dan hal-hal menyedihkan lainnya. Termasuk musuh terbesar gue, yaitu “Galau”. Proses kedua dan ketiga berjalan beriringan dan terjadi looping (artinya pengulangan kalau dalam bahasa pemrograman) pada prosesnya.

Lalu yang terakhir, "Ambil hikmahnya". Setelah proses jatuh bangun, nangis, hapus air mata lalu berdiri tegak lagi, biasanya gue meluangkan waktu sejenak untuk merenung dan meng-evaluasi semuanya. Biasanya ada tuh nyempil pelajaran yang harus dipetik manfaatnya.

Gue sendiri ngga tau inti dari tulisan ini. Namanya juga edisi curcol, jadinya emang kaga jelas. Hahaha...

 

Oke deh... cukup sekian dulu edisi curcol part 1 ini. See u next  time di edisi curcol berikutnya.

Reporter : Mega Maharani
Sumber : http://belajarbiologi.com/2014/11/metamorfosi