Cerpen (Chapter 1) : Kebun Kecil Kami

18 Des 2015, 05:06 WIB | mega

Litle Garden (ilustrasi) | Sumber Foto:pixabay.com

Dalam kenangan kanakku, tersimpan dengan jelas keindahan itu

Taman kecil yang menjadi surga masa kecilku

Menjadi teman imajiku

Menyertai setiap derai gelak tawa dan tangisku

Sebuah taman yang lahir dari tangan seorang wanita berparas tegas

Namun bagiku, keindahan kebun kecil kami cermin kelembutan hatinya

 

Ketika kecil mama menciptakan sebuah kebun kecil di rumah kami. Semua hasil karya mama begitu sempurna dimataku. Semua terasa hidup dan punya kisahnya tersendiri. Tanpa diketahui semua orang, ketika sedang sedih aku suka curhat dengan tanaman yang ada di halaman rumahku.

Padahal halaman kami tidak begitu luas, namun setiap jengkalnya tumbuh berbagai macam tanaman bunga dan buah yang begitu enak dipandang mata. Aku sanggup berlama-lama memandanginya tanpa rasa bosan.

Ada pohon sirih yang tumbuh merambat di tembok dekat kolam ikan hias. Ada pohon alpukat di sampingnya yang menjulang tinggi tanpa pernah berbuah sekalipun. Lalu ada juga pohon belimbing yang daun dan batangnya tumbuh seperti sebuah jamur besar.

Mama membentuknya seperti itu. Dengan sabar dia memotong sendiri setiap batang demi batang sampai membentuk seperti pengelihatanku saat ini. Saat berbuah, mama dengan sabar membungkus semua buahnya dengan Koran agar tidak diserang hama.

Pada saat semua buah matang bersamaan, pohon belimbing itu indah sekali. Buahnya menjuntai ke bawah bergelantungan diranting-rantingnya. Sayang saat itu, kamera atau telepon selular masih barang mewah untuk kami.

Aku hanya dapat merekamnya dalam ingatanku yang terdalam. Senyum sumringah mama saat melihat tanaman yang dia rawat tumbuh subur dan menghasilkan buah yang bukan hanya enak dimakan tapi juga enak dilihat. Padahal dia sendiri tidak begitu hobbi makan belimbing. Namun, melihat pohon itu tumbuh dan menghasilkan buah yang cantik membuatnya cukup puas.

Lalu di tengah-tengah, ada pohon durian Bangkok hasil cangkokan yang mama beli bibitnya pada penjual tanaman. Aku ingat pada saat pohon durian itu berbuah untuk pertama kalinya. Buah yang bertahan sampai matang hanya ada 2 buah. Dan tumbuh di dahan yang agak rendah. Aku dan kedua adikku begitu tergiur dengan rasanya. Mama mengikat tangkai kedua durian itu pada dahan pohon agar bila nanti jatuh, buahnya akan tetap bergelantungan di dahan dan tidak jatuh ketanah atau menimpa kami yang sedang bermain.

Bagi kami, buah tersebut adalah buah mewah yang hadir secara gratis di halaman rumah kami. Nikmat yang diberikan Allah untuk keluarga sederhana kami. Saat itu musim panas, buah durian masih setia bertengger di dahan pohon namun, sela-sela buahnya sudah mulai merekah memperlihatkan sedikit daging buahnya yang berwarna kuning cemerlang. Lebah-lebah pun tergiur mencicipi rasa manisnya.

Nampak ranum sekali. Namun  mama masih ingin menunggu sampai sang pohon melepaskan sendiri buah tersebut dari dahannya sebagai tanda kematangan yang sempurna. Kami adik beradik nampak tidak sabar terutama aku. Setiap saat kupandangi buah durian itu dengan perasaan tidak rela, buah tersebut tampak dinikmati terlebih dahulu oleh para lebah.

Dengan tidak sabar aku berkata pada mama, "Maa... ayo dong petik aja buahnya...” kataku sambil merajuk.

Lalu dengan sabar mama menjawab, "Belum waktunya. Sabar ya..."

"Lalu kapan waktunya ma?"

"Nanti kalau sudah jatuh ya..."

"Tapi buahnya sudah kebuka ma... tuh sudah dikerubuti lebah"

Mama hanya tersenyum menanggapi rengekanku yang amat tidak sabaran. Padahal aku mengenal mamaku sebagai sosok yang galak waktu kecil tapi dia begitu sabar dalam merawat semua tanamannya dan menunggu pohon durian tersebut memberikan buahnya untuk kami makan.

Lalu tiba-tiba tangan mama menggapai buah durian yang memang tingginya tidak seberapa itu dan mencolekkan jari telunjuknya kesisi buah durian yang terbuka itu. Lalu mama memperlihatkan jarinya yang berlumur buah durian tersebut.

"Mau cicip?"

Dengan semangat aku langsung menjawab, "Mauuuuu"

Lalu aku menjilat buah tersebut dari jemari mama. Rasanya manis sekali. Bagiku ini adalah buah ternikmat yang pernah aku cicipi melalui jemari mamaku. Kasih sayangnya menumbuhkan berbagai macam buah-buahan yang tidak pernah sanggup kami makan jika harus membelinya.

Tiba-tiba kedua adikku berlarian kearah kami sambil berteriak, "Mamaaa... kita mau juga..."

Mama tertawa melihat tingkah kami bertiga dan mencolekkan kembali tangannya ke sela buah durian yang terbuka sedikit itu dan memberikan jemarinya untuk dijilat oleh kedua adikku itu. Aku hanya terpaut 2 tahun dengan kedua adikku yang lahir kembar, jadi kami bertiga biasa bermain bersama-sama seperti teman.

"Sekarang segitu dulu ya... Nanti kalau sudah jatuh, baru kita makan sama-sama." kata mama memberi pengertian. Dan kami bertiga, mengangguk setuju.

Saat itu keluarga kami hidup amat sederhana. Ayam gorengpun kami makan sebulan sekali. Lalu akhirnya aku dan kedua adikku memiliki ide untuk membeli 2 ekor anak ayam negeri yang kami beli dari uang jajan kami yang kami kumpulkan. Saat itu harga seekor anak ayamnya 1000 rupiah. Kami beri makan sisa sayur asem dan nasi yang kami makan. Harapan kami saat itu adalah, kalau ayam itu besar nanti kami bisa makan ayam goreng yang nikmat itu.

Begitu sederhana kebahagiaan kami saat itu, namun menggoreskan kenangan yang mendalam bagiku. Mama mengajariku hal besar dari setiap sikapnya yang tegas.

Kesabaran dan kerja keras membuahkan nikmat yang besar dan kebahagiaan saat mencapainya. Tidak ada yang instant, semua butuh proses. Dan aku melihat rasa bahagia dimata mama saat menjalani semua proses tersebut.

 

Bersambung....

Sumber : Mega Maharani