Cerpen (Chapter 2) : Rahasia kecil

21 Jun 2016, 00:53 WIB | mega

Rahasia Kecil Kami (Ilustrasi) | Sumber Foto:ist

Kebun kecil itu kini tak ada lagi

Seolah berduka dan kehilangan keindahannya

Kebun kecil tempatku menyimpan sejuta rahasia

Kini lenyap...

 

Di tahun pertamaku dibangku kuliah, kondisi kesehatan mama menurun drastis. Pembengkakan jantungnya semakin parah. Efek dari kelainan klep jantung bawaan yang tidak berfungsi semestinya. Sekujur tubuhnya membiru terserang sesak nafas dan tekanan darah yang terus menurun.

Langkah kakiku gontai melangkah di lorong rumah sakit itu. Aku benci bau rumah sakit, aku benci suasana mencekamnya, aku benci pelayanan rumah sakit yang kurang ramah. Aku benci suster yang merawat mamaku dengan wajah dingin, seolah berkata, "tak ada harapan".

Tiap langkahku menuju ruangan tersebut adalah siksaan. Melihat wajah yang biasanya penuh semangat itu, tidak berdaya di atas tempat tidur membuatku serasa ingin menjerit.

Aku berjalan melintasi ruang suster jaga dan terlihat kosong. Padahal ini masih jam 11.45 siang. Namun tak nampak seorangpun suster yang berjaga. Mungkin beginilah alasan kenapa citra rumah sakit ini cukup buruk. Namun kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang cukup tinggi, membuat sebagian dari kami bersabar dan sebagian yang lain hanya dapat mengeluh. Karena fasilitas peralatan yang lengkap, baru ada di rumah sakit ini.

Aku berhenti di ruang 601 tempat mamaku berada. Kamar kelas 2 yang berkapasitas 4 orang itu hanya terisi 3 orang pasien termasuk mamaku. Aku membuka tirai pembatas antar pasien. Dan melihat mama duduk termenung memandang keluar jendela menatap kosong.

"Assalamualaikum..." Sapaku sambil memaksakan seulas senyum di wajahku.

"Waalaikumsalam..." Mama membalas senyumku dengan wajah lemahnya.

"Mama sudah minum obat sebelum makan?"

"Belum." Jawabnya pelan.

Aku tersenyum, lalu memeriksa piring kecil berisi obat yang diletakkan suster di atas meja dan melihat obat itu masih tergeletak di sana. Kuambilkan segelas air putih untuk membantu mama minum obat. Mama meminumnya tanpa ekspresi apapun di wajahnya.

Aku merasakan rasa lelah yang dia rasakan. Lelah dengan segala macam obat dan cairan yang masuk kedalam tubuhnya, rasa perih dari jarum infus yang telah berpindah dari tangan kanan ke kiri meninggalkan bekas lebam dimana-mana.

Kuambil salep penghilang lebam dari laci meja dan perlahan mengoleskan ke atas bekas-bekas lebam itu.

"Halaman sudah disiram tadi pagi, Mba Laras?" Tanya mama.

"Sudah ma..." jawabku singkat lalu kembali terdiam.

Ada kabut kesuraman meliputi wajah kami, menimbulkan ketidak bahagiaan yang tidak sanggup kututupi. Mamaku saat ini baru berusia 44 tahun. Umur yang belum senja menurutku. Namun penyakit yang dia bawa sejak lahir membuatnya lemah secara fisik dan membuat kondisinya menurun dari hari ke hari.

"Papa belum datang jenguk juga ma?"

Pertanyaanku dijawab dengan senyum miris dari wajah mama yang artinya, "Tak usah diharapkan".

Kami kembali terjebak dalam keheningan yang panjang sambil menatap keluar jendela dari lantai 6 kamar rumah sakit ini.

"Mama lelah mba..." tiba-tiba mama memecah kesunyian.

Aku mengerti arti lelah yang mama maksud. Sudah 1 bulan dia berada di rumah sakit. Berawal dari ruang ICCU selama dua minggu dan sekarang sudah dua minggu diruang perawatan dan belum juga diizinkan pulang oleh dokter. Sudah begitu banyak pembuluh darah mama yang pecah karena bekas infus yang sudah terlalu lama.

Ditambah lagi, papa yang tidak pernah datang menjenguk mama sekalipun sejak awal mama dirawat. Selalu beralasan sibuk. Kesibukan macam apa yang menghalanginya untuk tak sempat menjenguk walau hanya 1 menit.  Walau mama menutupi perasaan getirnya berminggu-minggu, nampaknya dia tak sanggup menutupinya hari ini.

"Kalau bunuh diri bukan dosa, mungkin mama sudah lompat dari jendela untuk mengakhiri semua ini".

Kata-kata itu bagai petir disiang bolong bagiku. Aku mengerti rasa letih dan penderitaan yang mama rasakan namun mendengar keputus asaanya membuatku terguncang.

Ini bukan sosok seorang mama yang selama ini aku ingat dalam kenanganku. Kemana perginya keriangan itu? Kemana perginya sikap positif dan tegas yang selalu memberiku semangat?. Penyakit itu telah menggerogoti semua asa yang tersisa.

Seketika air mataku mengalir tanpa bisa dibendung.

"Istighfar ma..."

hanya itu yang terucap dari bibirku. Mama ber-istighfar sambil menangis sesenggukan. Aku merangkulnya dalam pelukanku. Kami menangis bersama. Tubuhnya yang semakin kurus terasa kecil dalam pelukanku. Tangis kami berdua adalah pecahan kepedihan yang selama ini hanya tercekat sampai ditenggorokan.

Betapa rapuhnya perasaan manusia. Begitu mudahnya hancur karena terpaan kepedihan yang terus menerus mendera. Kehidupan ekonomi kami semakin membaik, namun entah kenapa kehangatan dikeluarga kecil kami semakin menghilang.

Aku rindu masa-masa kecilku dulu. Riang tanpa beban bermain bersama kedua adikku di kebun kecil kami. Surga kecil kami. Tempatku mencurahkan segala kegundahanku. Tempat persembunyian imajinasiku.

Cukuplah percakapan kami hari ini jadi rahasia kecil yang tak akan pernah aku ceritakan kepada siapapun. Bahkan pada kebun kecil kami sekalipun. Aku berjanji pada diriku untuk tidak menunjukkan rasa lelahku, kepedihanku pada mama dan teman-temanku di kampus.

Mamalah satu-satunya alasanku bertahan dan tetap tersenyum menghadapi segala kesulitan ini. Satu minggu setelah percakapan terakhir kami yang menjadi rahasia kecil kami berdua, mama pergi dengan damai dan ikhlas. Dia telah melepaskan segala kegundahannya dihari itu dengan tumpahan air matanya.

 

Dihari-hari terakhirnya, dia banyak tersenyum dan membagi canda dengan teman dan sanak saudara yang menjenguk. Tak ada yang menyangka kalau itu adalah tawa canda terakhir kami semua.