Paradox Saling bertentangan

25 Okt 2018, 01:53 WIB | Editor : Rangga

Paradox Saling bertentangan

 

Pikiran versus tubuh, Saya tidak akan membandingkan hal tersebut.

Sekarang jika kita sadari, berapa anggaran kita dalam sebulan untuk menaikan tingkat wawasan kita?

Apakah kita sering membeli buku untuk meningkatkan wawasan kita?

Apakah kita sering mengikuti training untuk meningkatkan keahlian kita?

Apakah kita sering memberikan asupan bagi diri kita untuk meningkatkan pola pikir kita?

Sementara kita sering melenakan tubuh kita dengan makanan, minuman, pakaian dan perhiasan.

Padahal ketika manusia dinilai, yang dinilai adalah pikiran kita, missal Orang itu cerdas yah walaupun rupanya tidak cantik/tampan. Tapi jika orang cantik/ganteng namun bodoh akan menjadi cemoohan.

Itulah fenomena yang terjadi didunia ini, bahwa kita lebih mementingkan tubuh kita daripada pikiran kita.

Sekarang Pikiran Versus Jiwa, kita disekolahkan dari kecil hingga dewasa untuk yang terbaik, namun apakah kita sudah melakukan merawat jiwa kita dengan keimanan dan ibadah kepada Allah?

Berapa lama kita melakukan ibadah dalam tiap harinya, ketimbang kita melakukan kita bersenda gurau dalam kehidupan ini?

Kemudian Tubuh diluar kita yaitu harta kita dengan tubuh didalam diri kita.

Misalkan untuk tubuh diluarkita, jika kita mempunyai usaha dan penghasilan 10 juta perhari, tentu uang itu akan kita tabung secara rutin. Sementara harta yang ada ditubuh kita apakah sudah kita perhatikan? Misal Jantung kita, ginjal kita, otak kita, apakah telah kita rawat dan jaga.

Itulah fenomena yang ada, Paradox dalam kehidupan, itulah kata George Cooler.

Jiwa, Pikiran, tubuh dan harta adalah hal yang kita miliki, namun kita harus memiliki prioritas untuk menjaga dan merawat semuanya.

Sebagai gambaran terakhir, ada Orang yang memiliki Istri 4, Istri Pertama, Kedua, Ketiga dan Keempat. Dan Orang ini sudah cukup tua, sakit-sakitan dan berada di rumah sakit saat ini, mendekati sakratul mautnya.

Dia menelepon istri keempat yang masih muda dan sangat cantik untuk menemani hingga akhir hayatnya, namun jawabannya adalah tidak bisa, saya sedang pertemuan arisan, yang akhirnya orang tersebut kecewa mendengarnya.

Kemudian dia menelepon Istri Ketiga yang lebih tua sedikit dari istri keempat namun masih cantik, namun jawabannya adalah maaf tidak bisa karena harus mengurus anak sekolah dan sebagainya, yang akhirnya orang tersebut kecewa mendengarnya.

Kemudian dia menelepon Istri Kedua yang lebih tua sedikit dari istri ketiga namun masih tetap anggun, namun jawabannya adalah bisa saja tapi hanya untuk hari ini saja yak karena saua banyak kesibukan, yang akhirnya orang tersebut kecewa mendengarnya.

Ternyata ketiga istinya membuat dia kecewa.

Kemudian dia menelepon Istri Pertamanya yang sudah tua dari istri-istrinya yang lain, sudah tidak cantik, dan melalui telepon tersebut istri pertamanya menanyakan, ada apa ayah? Ada yang bisa saya lakukan untuk ayah?, si ayah (orang tersebut) bilang apakah kamu bisa menemani akhir hayatku hingga maut menjemputku disini?, dan kembali jawaban istri pertama adalah Apapun yang ayah minta akan aku lakukan, yang akhirnya orang tersebut terharu mendengarnya, padahal istri pertama jarang sekali dia kunjungi, selalu dia sakiti namun tetap menyayanginya.

Ini diibaratkan Istri keempat adalah Harta kita, harta yang disaat kita sakratul maut maka harta tersebut akan pergi tanpa pamit meninggalkan kita.

Ini diibaratkan Istri ketiga adalah tubuh kita, tubuh yang tidak setia dengan diri kita, dimana saat kita sakratul maut maka tubuh kita tidak akan mempertahankan kita untuk tetap hidup.

Ini diibaratkan Istri kedua adalah pikiran kita, pikiran yang juga disaat kita sakratul maut maka pikiran kita akan hilang begitu saja.

Ini diibaratkan Istri pertama adalah jiwa kita, yang akan selalu menemani kita disaat kita hidup maupun sakratul maut dan mati.

Ini menjadi gambaran buat kita, jadi sekali lagi mana yang akan kita pentingkan dari kesemua itu walau semua itu adalah penting, tapi kita harus memprioritaskan hal-hal tersebut.

Seperti George Coolen katakan, Kita selalu mementingkan bungkus ketimbang isi.

Padahal esensi dalam segala hal, isi adalah yang paling penting.

Jadi kita ingatkan untuk diri kita sendiri bahwa harta yang kita miliki harus kita jaga dan syukuri apa yang kita miliki, walau kita tidak memiliki harta yang melimpah.

Kita memiliki harta yang luar biasa tak ternilai ketimbang harta yang ada diluar sana.

Berapa nilai rumah, mobil/motor, ada nilai tukarnya bukan?

Berapa nilai ginjal kita dan anggota tubuh dalam kita yang lainnya, mahal bukan nilainya?

Namun apakah kita telah meningkatkan wawasan kita dengan menimba ilmu, dari buku dan lainnya ketimbang fashion?

Berapa banyak duniawi yang kita lakukan ketimbang memberikan asupan bagi masa depan jiwa/roh kita nanti dengan ibadah kepada Allah?

Mari kita prioritaskan mana hal yang lebih penting dari hidup kita ini agar hidup dan mati kita didunia ini lebih berarti ketimbang melakukan hal yang percuma dan sia-sia.