Produktif atau konsumtif

08 Apr 2019, 06:27 WIB | Editor : rangga

Produktif atau konsumtif

Terdapat 2 pola pikir krusial yang tidak dapat dianggap enteng dalam mempengaruhi masa depan kita.

Ada yang namanya si kaya dan si miskin.

Terdapat 2 pola pikir signifikan yang berbeda diantara SiKaya dan SiMiskin.

Bagi pemikiran SiKaya, INCOME yang dihasilkan haruslah berubah menjadi sebuah ASET dan memiliki nilai INVESTASI yang nilainya terus naik serta produktif dan hasilnya semakin banyak aset produktif yang dimiliki pada akhirnya semua pengeluarannya akan dibiayai oleh semua aset-asetnya, itulah cara kerja SiKaya agar menjadi makin kaya.

Bagi pemikiran SiMiskin, INCOME yang dihasilkan lalu akan dipikirkan bagaimana cara menghabiskan uangnya untuk kebutuhan konsumtif, dimana sifatnya hanya sementara dan akan habis begitu saja, sehingga SiMiskin harus bekerja lagi lebih keras lagi hingga menghasilkan Income yang lebih banyak lagi agar dapat membeli kebutuhan konsumtif yang lebih banyak lagi atau mahal.

Ini adalah sebuah habbit atau maindset yang tidak mudah untuk diubah begitu saja dan tantangan ini semakin berat bagi para milenial genesari saat ini dimana biaya hidup akan selalu makin meningkat dimana Produk tersier, sekunder, hangout, jalan-jalan, belanja-belanja akan dianggap sebuah kebutuhan Primer karena semakin mudahnya segala jenis akses di era digital sekarang ini.

Jadi tidak heran jika banyaknya orang-orang saat ini susah untuk beli/memiliki rumah sendiri karena tidak adanya balancing antara pemasukan dan pengeluaran yang istilah dulunya adalah lebih besar pasak dari pada tiang, apalagi harga tanah yang selalu meroket setiap tahunnya baik dikota besar maupun daerah terpencil sekalipun.

Mau tau seberapa ironisnya perbedaan gaya hidup PRODUKTIF dengan KONSUMTIF?

Menurut penilaian, bahwa seluruh uang yang ada didunia ini 90% hanya dikuasai oleh 5% orang saja.

Dan sisanya 95% orang hanya menguasai 10% uang yang ada didunia ini. Miris, namun itu belum seberapa.

Seorang konsultan keuangan ternama, membuat simulasi sederhana dari sebuah kecenderungan yang ada dan hasilnya adalah :

menurut ahli, jika seluruh uang didunia ini dikumpulkan dan dibagi rata kepada seluruh orang didunia, maka setiap orang berhak mendapatkan uang sejumlah 20an Milyar Rupiah.

Namun dengan kecenderungan pola pikir orang produktif dan konsumtif yang ada tadi, kurang lebih dikatakan dalam 5 tahun keadaan uang didunia akan kembali sama lagi seperti semula, yaitu 90% uang akan dikuasai oleh 5% orang saja dan Dan sisanya 95% orang hanya menguasai 10% uang yang ada didunia ini.

Karena Si Konsumtif akan selalu sibuk untuk menghamburkan uangnya, dimana Si Produktif akan selalu melihat peluang bagaimana UANG AKAN BEKERJA UNTUK DIA. Ironis, seperti udah ditakdirkan seperti itu khan...

Kenapa hanya ada 5% orang saja yang selalu ada di puncak?

selain itu adalah memang hukum ekonomi, analoginya sama seperti perlombaan lari marathon, dimana ada banyak orang di line start dan pada akhirnya hanya akan ada beberapa orang saja yang akan tiba lebih awal di line finish.

Pertanyaannya apakah mereka adalah orang-orang yang beruntung? Tidak juga.

Adalagi jika kita menggambarkan lari cepat 100 meter, dari 8 peserta, akan ada beberapa orang tiba lebih awal digaris finish, walau berbeda hanya beberapa detik saja, namun effort yang diberikan mungkin bisa mencapai perbedaan yang signifikan dari pelari lain, itulah kenapa seleksi alam terjadi.

Karena orang-orang produktif tersebut menggunakan waktu yang sama dengan orang-orang konsumtif lainnya dengan cara mereka (orang-orang produktif) yang luar biasa, perbedaannya adalah bagaimana mereka menggunakan waktu saja.

Seperti perkataan Jack Ma (Pendiri Alibaba Group), harta benda tidak akan ada habisnya, bisa dicari dan bisa hilang begitu saja. Namun yang lebih berharga adalah waktu, karena waktu tidak akan pernah bisa diulang. Dan Beliau berkata harta yang paling berharga adalah MASA MUDA, Gagal lah sebanyak mungkin di Usiamu (20an tahun) yang masih muda dan produktif, agar tidak ada lagi kegagalan di USIA TUA yang semakin lanjut.

Dari pernyataan Jack Ma, sebenernya tidak ada alasan untuk tidak punya MODAL, karena MASA MUDA itu lebih berharga dari aset apapun, masa dimana kita dapat melakukan apapun dengan energi terbaik kita tanpa merasa lelah. Masa dimana sebuah harapan itu terasa nyata.

Ada juga yang berpendapat "uang itu bukanlah segalanya", "uang tidak menjamin kebahagiaan", tentu saja banyak yang setuju dengan pernyataan itu namun tidak absolut.

Orang punya banyak uang, mungkin tidak bahagia.

Tapi orang yang tidak punya uang sampai tidak bisa makan, tidak mungkin bahagia.

Kita akan masuk ke bahasan yang lebih dalam lagi, yaitu Esensi.

Ordinary peope akan bekerja untuk uang, kemudian uang itu digunakan untuk membeli kebahagiaan.

Apakah benar cara hidup itu digunakan bagaimana cara membeli kebahagiaan?

Baiklah, ada beberapa orang super kaya didunia ini yang tidak tanggung-tanggung, kita ambil sampel Jeff Bezoz (terkaya No. 1 Dunia tahun 2018-2019).

Bagi sebagian besar orang, membeli Mobil Lamborghini yang terbaru dan termahal adalah sebuah KEMUSTAHILAN, dan bisa dibilang banyak orang didunia ini yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan itu, namun bagi Jeff Bezoz, riset membuktikan bahwa perasaan jef bezoz membeli Lamborgini tersebut seperti membeli burger saja, tidak ngefek secara moril maupun materil dengan kekayaannya yang sebanyak diatas 90an milyar dolar, dia bisa membeli dan melakukan apapun yang dia mau.

Tapi hukum alam yang diciptakan Allah itu adil, analoginya sama seperti sebuah sinar yang menerangi di kegelapan malam, semakin gelap malam, sinar terkecil sekalipun akan dirasa sangat terang.

Begitu juga dengan cara kerja kebahagiaan, semakin banyak kesengsaraan hidup, maka kebahagiaan sekecil apapun akan terasa besar.

Sama dengan umur manusia yang pendek, hidup abadi itu akan terasa sengsara, jadi tetaplah bersyukur.

Kita mungkin perlu bekerja bertahun-tahun agar bisa bepergian keluar negeri, dan kita akan sangat menghargai dan bersyukur apapun momen yang ada disana, bahkan tidak akan pernah lupa walau sudah bertahun-tahun yang lalu yang dialaminya yang merupakan momen terindah dalam hidupnya.

Namun orang super kaya bisa kemana aja dia mau every single day tanpa merasakan kebahagiaan yang sama seperti orang tadi.

Justru orang-orang seperti Jeff, Bill Gates, Mark, akan memilih hidup lebih sederhana yang menganggap kebanyakan orang tingkah mereka adalah aneh-aneh, karena sebenarnya orang-orang itu menyadari sesuatu yaitu mereka tidak bisa membeli kebahagiaan ketika mereka sudah berada di titik tertinggi, dimana ada beberapa kebahagiaan yang tidak dapat dibeli oleh materi, seperti senyuman dan tawa bahagia orang-orang dipemukiman miskin dan kumuh, ketulusan senyum dan tawa anak-anak di panti asuhan ketika mereka mendapatkan baju bekas dan mainan bekas, atau bahkan tawa haru bercampr tangis air mata bahagia seorang nenek dan kakek miskin yang mendapatkan pengobatan gratis.

Sebuah ketulusan tidak akan pernah bisa dihargai dengan materi, itulah kenapa orang-orang yang sudah mencapai di titik tertinggi ingin menjadi/mendedikasikan diri mereka sebagai penolong sesama dengan power dan materi yang mereka miliki, bukan hanya 1 atau 2 kebahagiaan yang mereka dapatkan, melainkan jutaan, yang tujuan akhirnya adalah "Change the world for a better place", seperti lagu Michael Jacson.

Untuk kita, sepertinya ga perlu harus seperti mereka dulu agar bisa membantu sesama, cukup bisa dimulai setiap saat melakukan hal kecil sehari-hari dan memberikan manfaat terhadap orang lain.

Jadi ada atau tidaknya kita, akan bermanfaat bagi semua, tidak peduli apapun pekerjaan kita, intinya "Be the best of you".

Jika dalam hal kecil kita bisa menyelesaikan kewajiban dan tanggung jawab, maka jabatan dan tanggung jawab yang lebih besar hanya masalah waktu dan skala saja jika prinsipnya sudah benar.

Doa dengan tujuan mulia itu ibarat kita memberikan sebuah proposal kepada YANG MAHA KUASA, selama tujuannya sejalan dengan YANG MAHA KUASA, sebesar apapun proposal yang kita ajukan kepada YANG MAHA KUASA, pastilah akan di Approve jika kita memang dianggap SIAP, karena tujuannya jelas banget for the humanity.

Namun ada hal yang harus diperhatikan sebelum memerdekakan orang lain, kita harus memerdekakan diri kita sendiri dahulu, yang artinya tahu benar siapa diri kita, jujur sama diri sendiri, paham benar akan kekurangan dan kelebihan diri, tahu ingin berbuat apa hari ini-besok-minggu depan-bulan depan-tahun depan, bahkan kelak akan mati sebagai seseorang yang seperti apa, jadi tidak mudah untuk diombang-ambing dengan sesuatu hal jika kita punya prinsip dan tujuan yang jelas.

Reporter : rangga
Sumber : All Websites